Karya Siswa

Akademik

Cat Antibakteri Berbasis Nano Silver sebagai Cat Tembok pada Rumah Sakit

Rosvien Tyastie Mulia Annisa Bunaya1, dan Azahra Nur Shadlika2, Ismayanti Soleha, S.Si3

yang sakit, dengan itu rumah sakit harus selalu dalam keadaan bersih, tapi masih saja ada mikroorganisme yang tumbuh pada dinding rumah sakit seperti S. aureus (46,15%), S. epidermidis (7,69%), Gaffkya tetragena (38,46%), Bacillus sp. (23,08%), Pseudomonas sp. (53,85%), E. coli (7,69%), dan Aspergilus sp. (30,77%). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan penambahan optimal nano silver yang ditambahkan dalam cat untuk menghasilkan aktivitas antibakteri dengan menggunakan metode yang mengacu pada proses pembuatan cat dengan cara manual. Metode yang dilakukan untuk pembuatan cat adalah mencampurkan bahan-bahan hingga menjadi homogen dan terdispersi dengan baik menggungakan hand bland. Adapun hasil penelitian ini dari uji waktu kering berkisar antara rentang waktu 185-1006 detik. Hasil dari uji daya tutup berkisar antara 8-8,9 m2/L. Hasil dari uji pH pada cat berkisar antara 8-8,3. Kemudian hasil uji antibakteri yang menunjukkan zona hambat bakteri ialah pada konsentrasi dengan nano silver 1000 ppm dalam 100 mL dan biosida 0,5% dengan konsentrasi penambahan nano silver sebanyak 10 ppm, 30 ppm, 50 ppm tidak dapat dihitung diameter zona bening karena menghasilkan zona bening yang sangat besar, dan penambahan nano silver sebanyak 70 ppm menghasilkan zona bening dengan diameter 36 mm. Maka dapat disimpulkan bahwa cat yang telah dihasilkan memenuhi standar SNI yang ada, dan penambahan bahan aditif nano silver dengan konsentrasi 1000 ppm dalam 100 mL dapat dibuktikan sebagai antibakteri dan biosida juga dapat membantu sebagai penghambat bakteri.


kata kunci : rumah sakit, nano silver, cat dinding

FIFA: Pendeteksi Jumlah dan Penyaring Flek Otomatis untuk Mencegah Gagal Panen pada Budidaya Lele Bioflok

Fadia Latifa Maghfiruha1, dan Maghfira Khaerani2, dan Ismayanti Soleha, S.Si3

Sebanyak 45% peternak ikan air tawar di Indonesia, mulai beralih ke teknik bioflok untuk membudidayakan lele. Teknik bioflok mampu memberikan hasil produksi 20 kali lipat (2.000 ekor/m3) dibandingkan teknik konvensional (100 ekor/m3). Namun faktanya sistem bioflok ini masih dianggap rumit dan aspek keahlian masih menjadi kendala, serta masalah pemberian pakan, penanggulangan penyakit, dan pengontrolan kualitas air menjadi faktor kegagalan panen yang merugikan petani ikan. Melihat permasalahan ini terutama masalah kontrol air peneliti merancang sebuah alat yang diberi nama FIFA sebagai alat pendeteksi dan penyaring flok otomatis. Dengan menggunakan sensor TDS dan filter air untuk memudahkan petani mengetahui kondisi Total Dissolve Solid (TDS), ketika kondisi TDS tinggi, maka alat dapat mengatur dan menyaring air secara otomatis. Untuk memastikan kinerja FIFA berjalan dengan baik peneliti melakukan pengujian meliputi pengujian sistem kalibrasi alat, pengujian karakteristik sensor, pengujian keakuratan sensor dan uji performa meliputi pengujian sistem pompa otomatis dan uji filter. Uji kalibrasi alat menunjukan hasil nilai error yang terukur pada pengukuran nilai TDS adalah 0,423% dan rata-rata standar deviasinya adalah 0,507682. Uji performa pompa dapat mengeluarkan air menuju filter dan filter mampu menyaring air secara otomatis, sehingga nilai TDS dalam kolam ikan lele dapat terkontrol. FIFA mampu mengurangi nilai TDS sebesar 16 ppm pada setiap 1 menit 4 detik. Berdasarkan hasil pengujian ini, dapat disimpulkan bahwa prototipe FIFA telah berhasil dibuat dan diuji.

Kata Kunci: Ikan Lele, Bioflok, Filter Otomatis, Sensor TDS, FIFA

Madrasah aliyah citra cendekia

Jl. Moh. Kahfi 1 No.44, RT.1/RW.2, Cipedak, Kec. Jagakarsa, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12630
Telp : +62217873542
Whatsapp : +62 878-8790-2505
Email : ma.citracendekia@gmail.com

Hubungi Kami
Butuh Bantuan?
Assalamu'alaikum,
Ada yang bisa kami bantu?