Wanita dan Emansipasi

Wanita dan Emansipasi

Wanita dan Emansipasi

“Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya karena wanita adalah guru dunia, dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya “ (Hasan Al Banna)

 

Wanita selalu identik dengan kesan lembut, penuh kasih sayang, dan anggun. Secara fitrahnya wanita memang memiliki kepekaan yang tinggi. Wanita selalu meluapkan kesedihannya dengan menangis. Tahukah kalian, bahwa sesungguhnya sifat-sifat tersebut justru menjadi sebuah senjata bagi wanita . Kelembutan seorang wanita merupakan kekuatan yang bisa mengalahkan pria. Sejarah telah mencatat, bahwa dengan kelembutan tersebut, wanita justru memiliki peran yang sangat penting dalam membangun sebuah peradaban. Melalui emansipasinya wanita melakukan pergerakan membangun bangsa. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa pejuang wanita yang menjadi pahlawan Nasional, yaitu: Laksamana Malahayati , Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Nyi Ageng Serang, Rahma El Junusiah, Rohana Kudus, Kartini, dsb. Kemudian dalam sejarah Islam juga terdapat tokoh-tokoh perempuan, seperti: Aisyah, Umu Sinan, Al Khansa , Khadijah, dst.

Perlawanan wanita tidak harus dengan kekuatan fisik sebagaimana yang dilakukan oleh pria. Wanita tidak harus menjadi pria yang harus mengerjakan semua aktifitas kaum pria. Wanita tidak harus setara secara fisik dengan pria. Semua itu tidak perlu dilakukan oleh wanita karena wanita adalah rekan pria. Rekan yang saling mengisi dan mendukung satu sama lainnya. Kerjasama tersebut telah di contohkan di abad ke-18 dengan bentuk perlawanan secara fisik hingga memasuki abad ke-20, di masa pergerakan nasional yang menunjukkan semangat kebangkitan nasional dari semua pemuda. Pada masa ini juga, terdapat suatu peristiwa penting dimana semua semua putra-putri Indonesia mengikrarkan sebuah janji yang disebut dengan “Sumpah Pemuda.”

Selain itu, peran wanita terhadap negara juga didukung dan dijamin dalam pasal 28 UUD 1945, yang menyatakan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikirian dengan lisan dan tulisan dan sebagaimana ditetapkan dengan undang-undang.” Dengan demikian wanita juga memiliki hak untuk berkontribusi di dalam negaranya demi kemajuan bangsa. Namun, perempuan pun tetap harus sadar dengan fitrahnya sebagai seorang Ibu dengan pekerjaan domestiknya. Peran inilah yang kadang terlupakan oleh kaum wanita. Peran menjadi ibu di rumah dengan segala aktivitasnya seolah-olah membuat perempuan tidak bisa berbuat lebih untuk bangsanya. Padahal kondisi tersebut justru berperan penting di dalam mencetak generasi emas Indonesia yang diprediksi terjadi di tahun 2045.

Oleh karena itu, perlunya sebuah keseimbangan dalam memaknai emansipasi . Makna emansipasi ini bukan harus setara dengan pria atau menjadikan pria sebagai musuh bagi wanita tetapi sebagai upaya pemerataan dan kseetaraan dalam mendapatkan pendidikan. Pendidikan merupakan pembuka peradaban yang maju dan hal ini harus didapatkan oleh wanita sebagai pendidikan yang utama dan pertama di dunia. Pentingnya pendidikan juga dinyatakan secara jelas di dalam Qs. Mujadalah:11. Maka, untuk para wanita tetaplah menjadi wanita seutuhnya dan sesuai dengan fitrahnya. Sesungguhnya apa yang telah kau miliki adalah sebuah kelebihan yang harus disyukuri. Di awali dari perbaikan wanitalah negara ini akan menjadi maju dan pemahaman yang benar terhadap emansipasinya.stnjh.

Siti Nurjanah

Guru Sejarah Madrasah Aliyah Citra Cendekia

About the Author

Leave a Reply