Citra Cendekia Ciptakan Insan Mandiri dan Tangguh

Citra Cendekia Ciptakan Insan Mandiri dan Tangguh

Citra Cendekia Ciptakan Insan Mandiri dan Tangguh

Menciptakan para insan cendekia yang berakhlakul karimah, demikian Bintan Khumaira, M.Si ketua Yayasan Da’wah Islamiah Ashabul Kahfi saat ditanya perihal motivasi dan tujuan didirikannya Madrasah Aliyah Citra Cendekia.

Dalam pemilihan tenaga kependidikan di Citra Cendekia dilakukan dengan seleksi ketat. Dari kepala sekolah hingga kepada tenaga satpam dan teanaga penjaga sekolah. Hal ini dilakukan agar lingkungan sekolah yang terletak di jalan M. Kahfi 1 No.44, CIpedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan itu sesuai dengan visi dan misi yayasan dalam melaksanakan pendidikan.

Penyeleksian para guru dilakukan dengan bekerja sama dengan salah satu konsultan dengan biaya yang besar. Sehingga guru menjadi faktor utama dan tidak kalah bersaing dengan lembaga pendidikan modern lainnya. Dengan ini Madrasah Aliyah Citra Cendekia berusaha mengangkat opini bahwa madrasah bukan lembaga pendidikan yang kurang baik, Madrasah Aliyah Citra Cendekia ingin menguatkan pandangan masyarakat bahwa saat ini Madrasah bisa lebih baik dibandingkan dengan sekolah umumnya pada tingkat menengah atas.

Madrasah-Aliyah-Citra-Cendekia-Jagakarsa-Jakarta-Selatan-(38)

Bintan berharap, bahwa lulusan dari Madrasah Aliyah Citra Cendekia dengan memanfaatkan keilmuan yang dimilikinya lebih dapat memanusiakan manusia.

Dalam mengimplementasikan visi dan misi yayasan, M. Thantawi Jauhari Lc., M.Si selaku kepala madrasah berupaya untuk memadupadankan antara ilmu dan akhlah dakalam pergaulan di Madrasah Aliyah Citra Cendekia. Dengan kata lain, bahwa berupaya menciptakan karakteristik Citra Cendekia yang bernuansa lingkungan pendidikan berbasis kebersahajaan.

Disini Thantawi berusaha mengkolaborasikan antara akhlak dan keilmuan untuk saling menyatu dan menunjang dalam tatangan pergaulan di sekolah. Hasilnya, Citra Cendekia memiliki karakter khas kebersahajaan dalam lingkungan pendidikan. Dimana interaksi antar siswa dan guru maupun antar siswa terjalin sedemikian rupa, hingga nampak benih upaya saling menghargai satu dengan lainnya. Thantawi yakin, delapan jam pergaulan positif yang di jalin di sekolah, bisa menjadi pengaruh baik bagi para siswa di rumah dan di lingkungannya.

Guna menjga mutu pendidikan, pihak sekolah terus berupaya memenuhi kelengkapan penunjang pendidikan. Walau baru berusia lima tahun, Madrasah Aliyah Citra Cendekia terbilang memiliki saran penunjang yang lengkap. Diantaranya adalah laha parkir yang cukup luas, berbagai laboratorium, masjid, sarana olahraga, kantin yang bersih serta berbagai kelengkapan lainnya yang embuat siswa merasan nyaman dan tak berkekurangan dalam upaya menimba ilmu. Dari tiga angkata alumni, Citra Cendekia telah banyak berhasil menghantar para siswanya ke perguruan tinggi yang diidamkannya. Diantaranya Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM) dan berbagai perguruan tinggi favorit lainnya. Namun ini bukanlah target utama papar Thantawi, yang menjadi prioritas Citra Cendekia adalah mencetak siswa menjadi prioritas Citra Cendekia adalah mencetak siswa menjadi intelektual yang berakhlak, intelektual yang bisa memanusiakan manusia yang juga memiliki sikap mandiri dan tangguh.

Untuk kegiatan luar sekolah, Citra Cendekia lebih memilih berbagai olimpiade pengetahua. Walau belum memperoleh peringkat utama, namun paling tidak kegiatan ini bisa menjadi barometer untuk mengetahui posisi kualitas yang telah dicapai Citra Cendekia, sekaligus sebagai pemacu untuk berupaya lebih baik dalam melakukan berbagai proses pencapaian keilmuannya.

Terkait dengan kondisi anak didik di Citra Cendekia, memang tak semuanya bisa beradaptasi seperti yang diharapkan. Ada satu dua murid yang ternyata dianggap tak bisa menyesuaikan diri di lingkungan Citra Cendekia.

Thantawi mengakui hal ini pernah terjadi pada salah satu anak didiknya. Dimana salah seorang siswa dinilai tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kondisi proses belajar mengajar yang diterapkan sekolah. Atas kondisi tersebut maka beberapa kali murid itu dipanggil oleh guru pembimbing. Ternyata tak ada perkembangan baik. Akhirnya pihak seklah memanggil orang tuanya dan menyaranakn agar murid tersebut mencari sekolah lain yang lebih sesuai dengan keinginannya.

Dalam hal ini, Thantawi tak mengeluarkan kata-kata peeceatan terhadap siswa tersebut. Dia lebih memilih kalau siswanya itu dianggap kurang pas untuk mengikuti proses belajar mengajar Citra Cendekia. Dia berpandangan, akan menjadi sia-sia jika kondisi itu dipertahankan walau orang tua murid tadi meminta agar anaknya tetap di Citra Cendekia.

Prinsipnya, kata Thantawi, proses belajar mengajar akan berhasil maksimal apabila terjalin komunikasi positif antara guru dan murid, ditambah lagi dengan budaya taat aturan. Karena segala peraturan yang dibuat di sekolah jelas memiliki maksud dan tujuan baik demi tercapainya nilai-nilai baik dalam pendidikan.

Bintan merasa yakin misi dan visi pendidikan yang diembannya bakal berjalan dengan baik, sebab menurutnya apa yang dijalankan oleh pengelola Madrasah Aliyah Citra Cendekia sudah tepat sesuai dan seiring dengan pihak yayasan sebagai penaung lembaga pendidikan tersebut.

Sumber : Dimuat dalam Koran Forum Kota Edisi 09/tahun 01/6-20 November 2013

About the Author

Leave a Reply