Blog :

Memancing Motivasi Intrinsik Siswa Dalam Belajar

Memancing Motivasi Intrinsik Siswa Dalam Belajar

Pekerjaan guru dalam memotivasi siswa untuk belajar memanglah tidak mudah. Di dalam kelas dengan beragam tipe anak, juga harus membuat guru memahami bahwa satu metode yang diterapkan mungkin tidak bisa menjangkau seluruh anak. Namun, ketika guru sudah memahami konsep intrinsik dan ekstrinsik motivasi anak, maka pembicaraan atau materi dalam kelas akan menarik. Masih banyak perdebatan mengenai motivasi anak dalam kelas merupakan sesuatu yang ekstrinsik. Hal ini memang terlihat bahwa motivasi anak dipengaruhi oleh sesuatu dari luar diri siswa seperti keinginan untuk mendapatkan nilai terbaik, agar tidak ditunjuk guru maju ke depan kelas, agar tidak dimarahi guru, ingin mendapatkan perguruan tinggi yang lebih baik dan lain-lain. Nah, hal ini yang sering dimanfaatkan oleh guru untuk memberikan motivasi bagi anak. Motivasi ekstrinsik dibangun berdasarkan norma sosial di masyarakat atau lingkungan sekitar, seperti bila anak mendapatkan nilai yang buruk maka ia akan direndahkan dari lingkungannya atau keluarga, oleh karenanya sang anak akan berusaha keras agar tidak mendapatkan nilai yang buruk atau bila sang anak gagal mendapatkan perguruan tinggi negeri favorit maka sang anak mendapatkan tekanan yang sangat hebat dalam dirinya seperti perasaan malu, gengsi, sedih dan putus asa serta kemudian adanya pembebanan mental dari keluarga ataupun lingkungan sekitar. Berdasarkan contoh diatas merupakan salah satu dari ribuan contoh motivasi ekstrinsik yang tidak tepat diterapkan kepada siswa, bahwa siswa dimotivasi belajar berdasarkan adanya “ancaman”.

Read More

E-Learning Pendidikan Indonesia

E-Learning Pendidikan Indonesia

Peran pendidikan semakin substansial dalam perkembangan taraf hidup manusia masa kini. Dominasi penggunaan teknologi dalam bidang pendidikan menyebabkan tingginya motivasi belajar dan budaya riset. Salah satu aplikasi teknologi di bidang pendidikan adalah penggunaan E-Learning. Semenjak diperkenalkan pada tahun 1990 oleh Universitas Illinois di Urbana-Champaign, dalam dua dekade terakhir telah meningkat dan menjadi trend di dunia pendidikan. Proses ini dipermudah dengan pertumbuhan komputer, internet, dan teknologi secara cepat, serta peningkatan biaya pendidikan. Faktor-faktor tersebut semakin mempermudah E-Learning untuk berkembang menjadi paradigma alternatif metode pendidikan.

Era pengetahuan (knowledge/ digital/ networking era) menyebabkan perubahan pada dunia pendidikan dengan cepat. Salah satu contoh dari perkembangan tersebut adalah semakin banyaknya jumlah pelajar yang datang dari seluruh mancanegara untuk menghadiri sebuah kegiatan belajar mengajar di internet. Dikarenakan perkembangan internet, belajar menjadi mungkin tanpa ada perbedaan jarak dan waktu. Pelajar dan guru/dosen terhubung oleh media digital yang menggantikan fisik, serta lokasi mereka telah terhubung tanpa adanya jarak. Pendidikan yang ada di seluruh dunia terhubung dengan jaringan yang kuat dan telah mengakibatkan perubahan fundamental pada level organisasi pendidikan.

Read More

PERAN GURU SENI RUPA SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL DI MADRASAH ALIYAH

PERAN GURU SENI RUPA SEBAGAI TENAGA PROFESIONAL DI MADRASAH ALIYAH

MA (Madrasah Aliyah) merupakan salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Kementrian Agama yang bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia yang islami, intelektual, dan kreatif sehingga memiliki jiwa yang taat dan cerdas untuk dirinya dan agamanya dibandingkan dengan lulusan SMA. Semua MA memiliki tujuan yang sama yaitu agar lulusannya memiliki kemampuan agama Islam, pengetahuan, serta keterampilan termasuk bidang seni rupa dan mampu mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari yang memang dituntut di dalam era ekonomi kreatif. Dari uraian tersebut, penulis memandang bahwa Sekolah Madrasah Aliyah memiliki kekhususan yang terdapat pada selain kemampuannya ilmu agama Islam yang lebih baik sebagai bekal mereka menuju kehidupan dunia dan akhirat yang baik, siswa juga dituntut untuk memiliki kreatifitas yang tidak kalah bersaing dengan sekolah umum atau kejuruan agar dapat mengimbangi perkembangan global.

Berdasarkan kondisi tersebut, apakah sudah terpikirkan tentang unsur pelaksana dilapangan, tenaga kependidikannya, sarana dan prasarana, sistem yang dijalankan, dan guru yang mendidik siswa. Tenaga pengajar merupakan faktor dominan dalam pelaksanaan proses pengajaran, dengan demikian kompetensi guru betul-betul sangat dibutuhkan dalam mengembangkan kemampuan siswa di sekolah MA.

Read More

Mars MA Citra Cendekia

Mars MA Citra Cendekia

Cipt : Hendra Wijaya
 

 

C                            G

Deruan…derap gembira

Em                         Am

Suara langkah bersama…

Em                 C               Am

Madrasah Aliyah Citra Cendekia,

C                                 G

Dalam bakti untuk negeri…

Em                                    Am

Bimbing generasi muda bangsa…

Read More

Himne MA Citra Cendekia

Himne MA Citra Cendekia

                                                                     

Cipt : Hendra Wijaya

 

HYMNE CITRA CENDEKIA                                                                            

 

Intro :

Am                   Em           F                      G

Suara langkah bersama, bersatu dalam…cita

Am                 C                    G

Membimbing dan mendidik tunas…bangsa

Am           Em           F                     G

Yang unggul, berilmu, amaliyah, dan istiqomah

Am                             G

Abadi dalam hati selamanya

Read More

Wanita dan Emansipasi

Wanita dan Emansipasi

“Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya karena wanita adalah guru dunia, dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya “ (Hasan Al Banna)

 

Wanita selalu identik dengan kesan lembut, penuh kasih sayang, dan anggun. Secara fitrahnya wanita memang memiliki kepekaan yang tinggi. Wanita selalu meluapkan kesedihannya dengan menangis. Tahukah kalian, bahwa sesungguhnya sifat-sifat tersebut justru menjadi sebuah senjata bagi wanita . Kelembutan seorang wanita merupakan kekuatan yang bisa mengalahkan pria. Sejarah telah mencatat, bahwa dengan kelembutan tersebut, wanita justru memiliki peran yang sangat penting dalam membangun sebuah peradaban. Melalui emansipasinya wanita melakukan pergerakan membangun bangsa. Hal ini telah dibuktikan oleh beberapa pejuang wanita yang menjadi pahlawan Nasional, yaitu: Laksamana Malahayati , Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Nyi Ageng Serang, Rahma El Junusiah, Rohana Kudus, Kartini, dsb. Kemudian dalam sejarah Islam juga terdapat tokoh-tokoh perempuan, seperti: Aisyah, Umu Sinan, Al Khansa , Khadijah, dst.

Perlawanan wanita tidak harus dengan kekuatan fisik sebagaimana yang dilakukan oleh pria. Wanita tidak harus menjadi pria yang harus mengerjakan semua aktifitas kaum pria. Wanita tidak harus setara secara fisik dengan pria. Semua itu tidak perlu dilakukan oleh wanita karena wanita adalah rekan pria. Rekan yang saling mengisi dan mendukung satu sama lainnya. Kerjasama tersebut telah di contohkan di abad ke-18 dengan bentuk perlawanan secara fisik hingga memasuki abad ke-20, di masa pergerakan nasional yang menunjukkan semangat kebangkitan nasional dari semua pemuda. Pada masa ini juga, terdapat suatu peristiwa penting dimana semua semua putra-putri Indonesia mengikrarkan sebuah janji yang disebut dengan “Sumpah Pemuda.”

Selain itu, peran wanita terhadap negara juga didukung dan dijamin dalam pasal 28 UUD 1945, yang menyatakan bahwa “Negara menjamin kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikirian dengan lisan dan tulisan dan sebagaimana ditetapkan dengan undang-undang.” Dengan demikian wanita juga memiliki hak untuk berkontribusi di dalam negaranya demi kemajuan bangsa. Namun, perempuan pun tetap harus sadar dengan fitrahnya sebagai seorang Ibu dengan pekerjaan domestiknya. Peran inilah yang kadang terlupakan oleh kaum wanita. Peran menjadi ibu di rumah dengan segala aktivitasnya seolah-olah membuat perempuan tidak bisa berbuat lebih untuk bangsanya. Padahal kondisi tersebut justru berperan penting di dalam mencetak generasi emas Indonesia yang diprediksi terjadi di tahun 2045.

Oleh karena itu, perlunya sebuah keseimbangan dalam memaknai emansipasi . Makna emansipasi ini bukan harus setara dengan pria atau menjadikan pria sebagai musuh bagi wanita tetapi sebagai upaya pemerataan dan kseetaraan dalam mendapatkan pendidikan. Pendidikan merupakan pembuka peradaban yang maju dan hal ini harus didapatkan oleh wanita sebagai pendidikan yang utama dan pertama di dunia. Pentingnya pendidikan juga dinyatakan secara jelas di dalam Qs. Mujadalah:11. Maka, untuk para wanita tetaplah menjadi wanita seutuhnya dan sesuai dengan fitrahnya. Sesungguhnya apa yang telah kau miliki adalah sebuah kelebihan yang harus disyukuri. Di awali dari perbaikan wanitalah negara ini akan menjadi maju dan pemahaman yang benar terhadap emansipasinya.stnjh.

Siti Nurjanah

Guru Sejarah Madrasah Aliyah Citra Cendekia